Selasa, 18 September 2012

Lokalisasi Ditutup, Bom Simalakama

Lokalisasi Ditutup, Bom Simalakama

Mulai 8 Juni 2011 diharapkan lokalisasi di seluruh Jawa Timur sudah harus ditutup. Ini berdasarkan instruksi Gubernur Jawa Timur, dengan alasan untuk mencegah meluasnya AIDS di wilayah itu. Batas akhir tahun 2016. Harapan yang bagus, pasti didukung oleh sebagian besar orang yang berdomisili di daerah ini.
Siapa yang tidak ngeri bila ditakuti-takuti AIDS, yang konon belum ada obatnya yang ces-pleng hingga sekarang. Dan konon jumlah penderita terus bertambah setiap waktu dengan siksa yang berlarut?
Tetapi, segampang itukah? ditutup terus semua berjalan mulus, tanpa gejolak? Ternyata beberapa kabupaten menolak menutup lokalisasi di daerahnya. Kelihatannya mereka lebih kritis, atau aparat setempat memang mengerti benar tentang permasalahan social yang timbul di daerahnya dengan cermat. Jadi tidak grusa-grusu (ngawur), karena menyangkut kehidupan banyak orang..
Masalahnya bukan cuma menutup lokalisasi prostitusi saja, tetapi akan banyak dampak yang bakal terjadi, dan saling terkait. Dan sudah merupakan tugas mereka harus mencarikan solusinya yang tidak gampang dan amat pelik . Atau daerahnya akan kebanjiran para PSK , yang kemudian menyebar kemana-mana, tanpa kendali. Belum lagi “usaha” terkait disekitar lokalisasi itupun akan bertebaran tidak karuan.
Saya pernah diajak oleh salah seorang aktifis perempuan pusat, ke daerah lokalisasi yang terkenal di Jawa Timur. Punya koperasi beromzet milyaran, beberapa home industry kecil dan juga suatu kursus berbagai macam ketrampilan dan pengetahuan serta keagamaan. Setelah kami datang dan disambut dengan baik, dijamu, kemudian bla bla bla. Kami mendapat penjelasan dari beberapa pengurus di daerah lokalisasi itu.
Sambil menunjukkan beberapa “keberhasilan” dari usaha mereka. Beberapa bangunan, untuk kesehatan, aula untuk pameran kegiatan dan untuk beribadah, juga banyak alat untuk ketrampilan dan alat musik/band.
Ia kemudian menjelaskan bahwa seorang PSK tidak akan tahan lama disatu tempat, mereka pasti di-rolling ketempat lain. Alasannya karena pelanggannnya pasti bosan dengan yang itu-itu saja. “Pelanggan itu kan Raja” katanya dengan dua jempolnya. Jadi sepertinya PSK dianggap layaknya barang dagangan saja, yang bisa dibuang atau diganti, setiap saat. Bisa dibongkar pasang sana-sini sesuai dengan hasrat keinginan pelanggannya. Betapa sungguh menyedihkan, saya sungguh bergidik dan miris.
Di daerah Malang terdata ada 5 lokalisasi besar, SumberPucung, Gondang Legi, Kepanjen, Wonosari dan Kromongan. Disebutkan tercatat ada 700 PSK dengan pelanggan sebanyak 12.600 orang. Tetapi saya pastikan, masih lebih banyak lagi di luar sana yang tidak terdata, PSK maupun pelanggannya. (Koreksi jika salah).
Saya berpikir jika kemudian ternyata lokalisasinya jadi ditutup dan penghuninya dibawa ke panti rehabilitasi untuk diberdayakan, Apa yang bakal terjadi dengan para pelanggannya? Jumlahnya tidak sedikit terdata.
Mereka adalah orang-orang yang mempunyai temperamen sex dan hasrat yang membara dan menggebu.
Juga kelainan sex, perilaku liar dan nylenah, lalu dimana mereka akan melampiaskan hasratnya?
Hasrat itu harus disalurkan, tetapi kalau lokalisasi tidak ada ? Mereka akan mencari tempat lain, kalau tempat lain tutup juga. Mereka akan merambah ketempat yang seharusnya tidak layak didatangi, dan terlarang untuk dimasuki.
Karena predator sex ini bukan cuma preman yang jelas tampak kasad mata, kelihatan wujud preman yang ganas dan petentang-petenteng. Tetapi justru mereka mungkin orang yang ada disekitar kita , tampak alim dan bersahabat serta bersahaja ? Siapa tahu orang itu yang mungkin kita hormati dan ada didekat kita, bahkan ada dalam keluarga kita .
Sekedar contoh saja, di daerah lokalisasi yang saya datangi itu. Disamping terlihat beberapa laki-laki yang seram dan galau, tetapi saya juga sempat melihat beberapa remaja putih abu-abu. Mereka saling berboncengan, melaju pelan celingak-celinguk kiri kanan, cekikikan. Saya sempat tercenung dan berpikir bagaimana ya cara pamit mereka pada ortunya tadi, waktu itu masih jam 10 pagi lho. Pasti ortunya berdoa, semoga anaknya bisa belajar hal yang baik dan berguna di sekolah. Para ortu itu pasti bisa mati berdiri ,bila tahu anaknya berkeliaran ditempat lokalisasi , dihari sepagi itu.
Ya, dan kembali pada si maniak sex, mereka pasti mencari tempat lain, terpaksa menyebar masuk ke komunitas steril dari prostitusi. Dan mereka masuk ke daerah kita, kekomunitas kita mungkin masuk ke rumah kita. Kemudian kalau ada AIDS pasti juga ikut menyebar kemana-mana tanpa kontrol dan kendali.
Dan perkosaan atau roda paksa yang lain makin mengkhawatirkan dan mengintai gadis baik-baik, perempuan yang tidak berprofesi sebagai pelacur.
Jadi diharapkan jika ada lokalisasi, yang tertata dengan baik, maka segala perilaku ” lain ” dan juga penyakitnya (bukan cuma AIDS saja, banyak penyakit kelamin yang lain) bisa terdeteksi. Bisa terkoreksi dengan cepat dan bisa dilokaliser dengan baik, juga ditanggulangi dan diobati , jadi tidak merambah kemana-mana.
Diperkirakan jika penutupan itu sampai batas nanti tahun 2016, jadi masih punya banyak waktu untuk berbenah diri. Disamping memberdayakan PSK-nya, tidak kalah penting adalah memberdayakan mental para calon pelanggannya, “Raj ” di bisnis itu. Kawula muda yang sedang mencari jati diri, harus diberi pencerahan yang baik. Ditekankan, bahwa masih banyak prilaku atau kegiatan lain yang lebih bermanfaat daripada berkeliaran di tempat prostitusi dan mengumbar naluri sexnya gila-gilaan. Orang tua, para guru, LSM juga organisasi keagamaan harus turut aktif ikut turun tangan.
Karena bagaimanapun laiknya sebuah bisnis, tanpa pelanggan, usaha itu pasti akan mati suri sendiri. Dan lokalisasi pasti akan bangkrut tanpa adanya pelanggan yang selalu rajin dan setia menyambangi tempat seperti itu. Memang harus ada kerja keras dari banyak fihak untuk menanggulangi masalah yang cukup rumit ini, mencari jalan terbaik. Sehingga tidak menimbulkan gejolak sosial yang meresahkan.
Harus membutuhkan perencanaan yang layak, karena waktunya masih cukup lama dan juga memakan biaya yang besar untuk menata semua itu. Waktu 4 tahun lagi, sepertinya semua persiapan bisa tuntas diselesaikan, dan penutupan lokalisasi bisa mulus dilaksanankan. Pertanyaannya, bisakah seperti yang diharapkan ?

Senin, 17 September 2012

Jangan Melahirkan Caesar jika tidak Urgent

Kian hari istilah operasi caesar jamak terdengar di telinga. dan ternyata hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan banyak negara di dunia.  Sebuah survei yang dilakukan terhadap ibu hamil yang akan melahirkan di Australia menyatakan bahwa bahwa 93,4 % ibu hamil menginginkan melahirkan secara normal dan hanya 6,34 % ibu hamil yang ingin melahirkan melalui jalan caesar. meskipun demikian presentase Caesar di Australia masih tergolong tinggi, yakni mencapai angka 27,6%.

untuk data caesar di Indonesia penulis belum mendapatkan publikasi ilmiah terkait hal tersebut, namun hasil observasi kecil-kecilan dilingkungan rumah maupun kantor ternyata cukup banyak ibu hamil yang akhirnya melakukan operasi caesar. menurut penulis ada beberapa penyebab seorang ibu hamil melakukan caesar. Pertama, alasan darurat. yakni, keadaan dimana power, passage dan passanger Ibu Hamil kurang atau tidak ideal untuk melakukan persalinan normal. misalkan power ibu Hamil yang memang lemah karena mengidap penyakit-penyakit tertentu seperti Asma, Jantung dan penyakit lain yang fatal akibatnya jika harus melakukan persalinan normal. Passage seperti panggul yang sempit sehingga tidak memungkinkan bayi melalui jalan lahir, ataupun kelainan passanger, diantaranya bayi terlalu besar,bayi melintang,bayi sungsang, bayi tertekan terlalu lama pada pintu atas panggul,dan janinmenderita denyut jantung lemah (Faizah Fauzan, 2003)

Kedua, faktor tim Medis. Pengalaman penulis selama menemani proses kehamilan Istri hingga persalinan, faktor tim medis dalam hal ini Bidan atau dokter kandungan memegang peranan sangat penting. sebab mental kita sebagai “pasien” yang notabene awam terhadap istilah-istilah medis sangat dipengaruhi oleh tutur kata dan optimisme mereka. saya ambil dua contoh yang saya alami secara langsung, saat istri saya hamil sekitar 4 bulan. USG dokter disebuah RS ternama di Tangerang menyatakan bahwa istri penulis memiliki Plasenta yang letaknya sangat rendah, dekat dengan jalan lahir. sang dokter menyatakan bahwa ini berbahaya. Tidak ada motivasi dalam diskusi tersebut, penulis seakan berada pada titik nadir dan menimbulkan berjuta tanya, lalu? so? ini namanya apa? solusinya bagaimana? bisakah lahir normal? pertanyaan-pertanyaan ini seakan menguap begitu saja ketia nyaris penulis tidak mendaoatkan jawaban yang memuaskan sama sekali. Dalam rangka mencari second opinion, penulis dan istri mencari alternatif, yakni dengan teknologi USG 4 Dimensi, beruntung Mbah Google menggiring penulis ke sebuah klinik di bilangan Harmoni. dengan harga hanya 150.000 rupiah saja, hasil USG ternyata menyatakan bahwa plasenta istri penulis normal letaknya, tidak masalah. bahkan disini penulis bisa berdiskusi panjang lebar hampir selama 2 jam dengan sang dokter hingga banyak wajah pasien bermuka kesal usai kita melakukan USG dan diskusi. Hasil diskusi penulis, istri dan dokter ternyata tidak semua penderita Plasenta letak rendah, maupun plasenta prefelia harus melakukan operasi caesar, butuh rekam medis terlebih dahulu untuk mengetahui apakah menutupi jalan lahir atau tidak. Jika tidak menutupi, maka tidak perlu caesar! penulis merasa puas konsultasi dengan sang dokter. kejadian kedua terjadi hari selasa lalu, tepat dengan HPL istir, yakni 11 september 2012. Hasil USG terhadap istri penulis yang dilakukan di Ciledug ternyata membuahkan pernyataan panik penulis yang saat itu sedang berada di luar kota. istri, melalui pesawat telepon menyatakan bahwa bayinya terlilit tali pusat, dan kemungkinan besar harus caesar! kembali penulis mendapatkan istilah ini ; caesar! setelah berkonsultasi dengan beberapa rekan sejawat, penulis kembali membawa istri menuju harmoni untuk melakukan USG 4 Dimensi, hasilnya ternyata nihil! nyaris tidak ada masalah yang berkenaan dengan plasenta, apalagi sampai terllit! bahkan dokter manyatakan bahwa terlilit pada bayi dalam kandungan sebetulnya bukan masalah. karena bayi itu belum bisa bernafas dalam kandungan, jika sudah bisa maka sudah pasti akan mati karena ia hidup di dalam air ketuban sang ibu. namun memang dokter menyatakan bahwa kondisi air ketuban Istri sudah berada di 5.43, jauh di bawah angka normal, sehingga sebaiknya menginap untuk persiapan melahirkan.

ketiga, faktor kekacauan berfikir dari Ibu Hamil. ada sebuah riset yang dilakukan oleh seorang dokter kandungan bernama Jose Villar di Amerika Selatan dan Meksiko. Ia melibatkan 120 rumah sakit dari 24 wilayah dengan jumlah kelahiran 97.000 bayi. Ternyata sepertiga dari para responden memilih melahirkan dengan cara Caesar dan tahukah anda apa alasan mereka memilih caesar? Salah satu alasan yang dominan dikemukakan oleh responden adalah MENIRU PRILAKU SELEBRITI!!!! hello….. hipotesis penulis yang memang perlu dibuktikan lagi secara ilmiah, banyak juga Ibu Hamil di Indonesia yang berfikiran sama dengan Ibu Hamil di Amerika, bahkan mungkin lebih parah lagi sebab beberapa Ibu Hamil justru memaksa minta operasi caesar karena alasan tanggal cantik seperti yang pernah terjadi pada tanggal 10-10-2010. sungguh suatu kekacauan berfikir, sebab sejatinya semua tanggal itu baik dan memiliki keunikan masing-masing.

untuk alasan pertama, penulis masukkan dalam alasan urgent. namun untuk alasan kedua dan ketiga penulis anggap itu adalah alasan yang tidak urgent! mengapa harus dilakukan caesar hanya karena  pragmatisme buta yang muncul dari beberapa oknum medis, dan lebih parah lagi, kenapa harus dilakukan caesar hanya karena mengikuti gaya selebriti yang tidak patut dicontoh? perlu diketahui oleh para ibu hamil bahwa ada beberapa efek negatif dari caesar, khususnya caesar yang tidak sesuai dengan protap kedokteran. dampak negatif yang muncul adalah :

    Munculnya masalah baru akibat pembiusan yang digunakan dan obat-obatan penghilang rasa nyeri pasca operasi.

    Meningkatnya resiko infeksi dan penggunaan antibiotik.

    Terjadi pendarahan yang lebih berat dan meningkatnya resiko pendarahan yang mengakibatkan anemia dan perlunya transfusi darah.

    Perawatan di rumah sakit dan di rumah lebih lama sehingga meningkatkan kebutuhan biaya hidup.

    Nyeri luka caesar lebih lama daripada persalinan normal, sehingga akan memberatkan yang bersangkutan untuk merawat diri sendiri dan bayi.

    Timbulnya masalah jaringan parut pada luka bekas operasi.

    Kemungkinan terjadi masalah lain dalam tubuh, seperti lemahnya fungsi usus besar, kandung kemih, otot V rahim dan resiko pembentukan bekuan darah kaki dan panggul.

    Meningkatnya resiko masalah pernafasan dan temperatur untuk bayi yang baru lahir.

    Potensi kemadulan yang lebih tinggi daripada wanita dengan melahirkan pervagina.

    Peningkatan resiko plascenta yang tertahan pada kehamilan berikutnya, serta kemungkinan besar dalam persalinan berikutnya juga akan melakukan caesar lagi.

masihkah anda tertarik caesar jika tidak urgent????