Lokalisasi Ditutup, Bom Simalakama
Mulai 8 Juni 2011 diharapkan lokalisasi di seluruh Jawa Timur sudah harus ditutup. Ini berdasarkan instruksi Gubernur Jawa Timur, dengan alasan untuk mencegah meluasnya AIDS di wilayah itu. Batas akhir tahun 2016. Harapan yang bagus, pasti didukung oleh sebagian besar orang yang berdomisili di daerah ini.Siapa yang tidak ngeri bila ditakuti-takuti AIDS, yang konon belum ada obatnya yang ces-pleng hingga sekarang. Dan konon jumlah penderita terus bertambah setiap waktu dengan siksa yang berlarut?
Tetapi, segampang itukah? ditutup terus semua berjalan mulus, tanpa gejolak? Ternyata beberapa kabupaten menolak menutup lokalisasi di daerahnya. Kelihatannya mereka lebih kritis, atau aparat setempat memang mengerti benar tentang permasalahan social yang timbul di daerahnya dengan cermat. Jadi tidak grusa-grusu (ngawur), karena menyangkut kehidupan banyak orang..
Masalahnya bukan cuma menutup lokalisasi prostitusi saja, tetapi akan banyak dampak yang bakal terjadi, dan saling terkait. Dan sudah merupakan tugas mereka harus mencarikan solusinya yang tidak gampang dan amat pelik . Atau daerahnya akan kebanjiran para PSK , yang kemudian menyebar kemana-mana, tanpa kendali. Belum lagi “usaha” terkait disekitar lokalisasi itupun akan bertebaran tidak karuan.
Saya pernah diajak oleh salah seorang aktifis perempuan pusat, ke daerah lokalisasi yang terkenal di Jawa Timur. Punya koperasi beromzet milyaran, beberapa home industry kecil dan juga suatu kursus berbagai macam ketrampilan dan pengetahuan serta keagamaan. Setelah kami datang dan disambut dengan baik, dijamu, kemudian bla bla bla. Kami mendapat penjelasan dari beberapa pengurus di daerah lokalisasi itu.
Sambil menunjukkan beberapa “keberhasilan” dari usaha mereka. Beberapa bangunan, untuk kesehatan, aula untuk pameran kegiatan dan untuk beribadah, juga banyak alat untuk ketrampilan dan alat musik/band.
Ia kemudian menjelaskan bahwa seorang PSK tidak akan tahan lama disatu tempat, mereka pasti di-rolling ketempat lain. Alasannya karena pelanggannnya pasti bosan dengan yang itu-itu saja. “Pelanggan itu kan Raja” katanya dengan dua jempolnya. Jadi sepertinya PSK dianggap layaknya barang dagangan saja, yang bisa dibuang atau diganti, setiap saat. Bisa dibongkar pasang sana-sini sesuai dengan hasrat keinginan pelanggannya. Betapa sungguh menyedihkan, saya sungguh bergidik dan miris.
Di daerah Malang terdata ada 5 lokalisasi besar, SumberPucung, Gondang Legi, Kepanjen, Wonosari dan Kromongan. Disebutkan tercatat ada 700 PSK dengan pelanggan sebanyak 12.600 orang. Tetapi saya pastikan, masih lebih banyak lagi di luar sana yang tidak terdata, PSK maupun pelanggannya. (Koreksi jika salah).
Saya berpikir jika kemudian ternyata lokalisasinya jadi ditutup dan penghuninya dibawa ke panti rehabilitasi untuk diberdayakan, Apa yang bakal terjadi dengan para pelanggannya? Jumlahnya tidak sedikit terdata.
Mereka adalah orang-orang yang mempunyai temperamen sex dan hasrat yang membara dan menggebu.
Juga kelainan sex, perilaku liar dan nylenah, lalu dimana mereka akan melampiaskan hasratnya?
Hasrat itu harus disalurkan, tetapi kalau lokalisasi tidak ada ? Mereka akan mencari tempat lain, kalau tempat lain tutup juga. Mereka akan merambah ketempat yang seharusnya tidak layak didatangi, dan terlarang untuk dimasuki.
Karena predator sex ini bukan cuma preman yang jelas tampak kasad mata, kelihatan wujud preman yang ganas dan petentang-petenteng. Tetapi justru mereka mungkin orang yang ada disekitar kita , tampak alim dan bersahabat serta bersahaja ? Siapa tahu orang itu yang mungkin kita hormati dan ada didekat kita, bahkan ada dalam keluarga kita .
Sekedar contoh saja, di daerah lokalisasi yang saya datangi itu. Disamping terlihat beberapa laki-laki yang seram dan galau, tetapi saya juga sempat melihat beberapa remaja putih abu-abu. Mereka saling berboncengan, melaju pelan celingak-celinguk kiri kanan, cekikikan. Saya sempat tercenung dan berpikir bagaimana ya cara pamit mereka pada ortunya tadi, waktu itu masih jam 10 pagi lho. Pasti ortunya berdoa, semoga anaknya bisa belajar hal yang baik dan berguna di sekolah. Para ortu itu pasti bisa mati berdiri ,bila tahu anaknya berkeliaran ditempat lokalisasi , dihari sepagi itu.
Ya, dan kembali pada si maniak sex, mereka pasti mencari tempat lain, terpaksa menyebar masuk ke komunitas steril dari prostitusi. Dan mereka masuk ke daerah kita, kekomunitas kita mungkin masuk ke rumah kita. Kemudian kalau ada AIDS pasti juga ikut menyebar kemana-mana tanpa kontrol dan kendali.
Dan perkosaan atau roda paksa yang lain makin mengkhawatirkan dan mengintai gadis baik-baik, perempuan yang tidak berprofesi sebagai pelacur.
Jadi diharapkan jika ada lokalisasi, yang tertata dengan baik, maka segala perilaku ” lain ” dan juga penyakitnya (bukan cuma AIDS saja, banyak penyakit kelamin yang lain) bisa terdeteksi. Bisa terkoreksi dengan cepat dan bisa dilokaliser dengan baik, juga ditanggulangi dan diobati , jadi tidak merambah kemana-mana.
Diperkirakan jika penutupan itu sampai batas nanti tahun 2016, jadi masih punya banyak waktu untuk berbenah diri. Disamping memberdayakan PSK-nya, tidak kalah penting adalah memberdayakan mental para calon pelanggannya, “Raj ” di bisnis itu. Kawula muda yang sedang mencari jati diri, harus diberi pencerahan yang baik. Ditekankan, bahwa masih banyak prilaku atau kegiatan lain yang lebih bermanfaat daripada berkeliaran di tempat prostitusi dan mengumbar naluri sexnya gila-gilaan. Orang tua, para guru, LSM juga organisasi keagamaan harus turut aktif ikut turun tangan.
Karena bagaimanapun laiknya sebuah bisnis, tanpa pelanggan, usaha itu pasti akan mati suri sendiri. Dan lokalisasi pasti akan bangkrut tanpa adanya pelanggan yang selalu rajin dan setia menyambangi tempat seperti itu. Memang harus ada kerja keras dari banyak fihak untuk menanggulangi masalah yang cukup rumit ini, mencari jalan terbaik. Sehingga tidak menimbulkan gejolak sosial yang meresahkan.
Harus membutuhkan perencanaan yang layak, karena waktunya masih cukup lama dan juga memakan biaya yang besar untuk menata semua itu. Waktu 4 tahun lagi, sepertinya semua persiapan bisa tuntas diselesaikan, dan penutupan lokalisasi bisa mulus dilaksanankan. Pertanyaannya, bisakah seperti yang diharapkan ?